Perkembangan Sistem Imunitas Spesifik dan Nonspesifik

wp-1466318800577.jpgEvolusi perkembangan sistem imun dapat dianggap sebagai suatu seri respons adaptif terhadap lingkungan yang berubah-ubah dan potensial rawan. Evolusi perkembangan sistem imun yang ditinjau dari sudut keragaman berbagai macam spesies, dari spesies yang paling primitif sampai yang paling berkembang yaitu manusia, dinamakan filogeni sistem imun. Pengaruh lingkungan yang rawan ini akan menimbulkan seleksi spesies yang paling dapat beradaptasi terhadap lingkungan untuk bertahan hidup. Proses adaptasi inilah yang merupakan dasar filogeni respons imun.

  • Filogeni imunitas nonspesifik
    Bentuk paling primitif dari imunitas nonspesifik adalah fagositosis. Pada organisme uniselular fagositosis berperan sebagai fungsi nutritif, sedangkan pada organisme yang lebih tinggi fagositosis berperan sebagai fungsi pertahanan. Pada invertebrata yang lebih tinggi, sistem vaskular mulai terbentuk sehingga fagositosis tidak hanya dilakukan oleh yang terfiksasi tetapi juga oleh sel yang beredar dalam sirkulasi. Pada manusia misalnya, 3 dari 5 leukosit yang beredar, yaitu sel monosit, sel polimorfonuklear dan sel eosinofil berperan sebagai fagosit. Selain fagositosis, respons inflamasi juga merupakan pertahanan nonspesifik yang sudah terlihat pada invertebrata primitif. Dengan evolusi, bentuk pertahanan ini tetap dipertahankan dan ditambah dengan bentuk baru seperti sistem koagulasi, komplemen, amplifikasi biologik, bahkan dengan bentuk pertahanan spesifik.
  • Filogeni imunitas spesifikwp-1466373439433.jpg
    Adanya sistem imun spesifik sudah terlihat pada vertebrata primitif, misalnya seperti pada hagfish. Pada vertebrata primitif ini sistem imunitas spesifik masih berbentuk sistem limfoid yang tersebar, sedangkan pada vertebrata yang tinggi sistem ini sudah merupakan struktur limfoid tersendiri. Pada vertebrata yang lebih rendah, antibodi yang dibentuk mempunyai berat molekul tinggi yang analog dengan imunoglobulin M pada vertebrata yang lebih tinggi. Imunitas selular juga sudah terlihat baik pada invertebrata maupun vertebrata yang dapat terlihat dari penolakan jaringan transplantasi, tetapi pada invertebrata belum terlihat adanya antibodi yang analog dengan imunoglobulin. Semua vertebrata mempunyai antibodi, menolak jaringan transplantasi dan memperlihatkan memori imunologik. Pada manusia sistem imun sudah berkembang sedemikian rupa dengan berbagai macam subset sel limfoid dan limfokin yang dihasilkannya. Selama evolusi terjadi spesialisasi sel yang berperan spesifik pada pertahanan tubuh dan spesialisasi ini didukung oleh lingkungan mikro tempat sel pendahulu berada, misalnya timus dan bursa fabricius pada burung.
    Urutan evolusi kelas imunoglobulin paralel dengan proses pematangan pada individu. Pada vertebrata primitif terlihat antibodi yang analog dengan imunoglobulin M, dan pada yang lebih tinggi timbul antibodi kedua yang analog dengan imunoglobulin G, kemudian diikuti antibodi yang analog dengan IgA. Sedangkan pada manusia terdapat 5 kelas imunoglobulin, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE dengan masing-masing subkelasnya. Jadi lingkungan merupakan faktor yang penting dalam filogeni sistem imun, baik lingkungan makro maupun mikro. Lingkungan mikro sangat penting pada perkembangan sistem imun spesifik. Respons imun yang berkembang sempurna adalah respons imun dengan spesifisitas dan memori imunologik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s