Gangguan Hormonal Pada Bayi Dengan Riwayat Alergi

Gangguan keseimbangan hormon dipengaruhi beberapa faktor kimiawi yang sama, dan perubahan dalam masing-masing komponen dapat mempengaruhi seluruh sistem. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang mempengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh serta apa saja-dan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh juga dapat mempengaruhi alergi. Perubahan kadar tingkat hormon dan regulasi dapat memiliki dampak yang signifikan pada kedua insiden alergi dan tingkat keparahan gejala alergi. Meskipun mekanisme tidak selalu dipahami dengan baik, perubahan kadar hormon ini sering berhubungan dengan terjadinya alergi atau perubahan gejala alergi, terutama untuk hay fever, asma, dan dermatitis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kadar hormon, termasuk pola makan, beberapa jenis obat, dan stres.Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa faktor-faktor ini juga bisa memicu atau memperburuk alergi.Penelitian juga menunjukkan alergi sering dipicu atau diintensifkan oleh transisi tubuh alami dan siklus seperti pubertas, kehamilan dan menopause.

    Tanda dan gejala gangguan hormonal yang sering terjadi pada penderita alergi

     Pada bayi :

    • keputihan/keluar darah dari vagina
    • Timbul bintil jerawat ada sedikit warna putih seperti nanah di ujungnya  
    • pembesaran payudara
    • rambut rontok

      Beberapa Hormon yang berkaitan dengan alergi dan gejalanya

      Seperti yang terlihat dalam gambar, bila  proses alergi itu berlangsung maka diduga bisa terjadi perubahan beberapa hormon tubuh yang berakibat beberapa gangguan diantaranya adalah :

      • Peningkatan hormon adrenalin bisa menimbulkan kecemasan, panik, perasaan labil.
      • Penurunan hormon kortisol menurun bisa mengakibatkan kelelahan atau lemas.
      • Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.
      • Penurunan hormon estrogen, hormon metabolik dan hormon kortisol

      Manifestasi Alergi

      Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

      (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

      • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

        MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

        • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
        • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
        • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
        • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
        • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
        • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
        • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
        • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
          Memastikan Diagnosis
          • Diagnosis gangguan hormonal  tersebut dipengaruhi  karena alergi atau hipersenitifitas makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
          • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
          • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
          • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.  
          • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
          • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

           PENATALAKSANAAN 

          • Penanganan  gangguan hormonal  tersebut dipengaruhi  karena alergi atau hipersenitifitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.    
          • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.  
          • Obat-obatan simtomatis seperti anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesase prostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.  

          Obat

          • Pengobatan Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.    
          • Konsumsi obat-obatan beberapa cara dan strategi untuk menangani Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
          • Sejak hormon memainkan peran penting dalam mengatur kejadian dan tingkat keparahan alergi, sangat mungkin hormon juga berperan dalam pengobatan alergi.  hormon sintetis yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis alergi.
          • Kortikosteroid adalah kelompok hormon yang dihasilkan oleh lapisan luar kelenjar adrenal.  Kelompok ini mencakup kortisol, dan semua anggotanya memiliki efek anti-inflamasi luas. Inhaled synthetic corticosteroids are the primary maintenance medication used for asthma prevention. sintetik kortikosteroid inhalasi adalah obat perawatan utama yang digunakan untuk pencegahan asma. Kortikosteroid bisa disuntikkan untuk pengobatan peradangan sistemik yang berhubungan dengan alergi atau asma, atau dioleskan untuk mengobati peradangan lokal.
          • Adrenalin, juga dikenal sebagai epinefrin, adalah hormon alami yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal sebagai respons terhadap stres.  Hal ini memicu peningkatan denyut jantung dan aliran darah meningkat menjadi otot dan otak, kegiatan yang kontra beberapa gejala anafilaksis, juga dikenal sebagai shock alergi.   Adrenalin sintetis , atau epinefrin, digunakan untuk mengobati anafilaksis, karena alasan ini, orang-orang dengan alergi parah sering akan membawa epinefrin yang dikelola sendiri (seperti EpiPen) dalam kasus eksposur terhadap allergen mengancam nyawa.
          • Alternatif pendekatan untuk alergi cenderung menekankan teknik pengurangan stres, terapi nutrisi secara alami mengembalikan tingkat sehat kortisol (hormon stres) dan hormon lainnya, dan sesuai, solusi alami untuk membawa hormon kembali seimbang.  Pendekatan ini, integratif alami dapat mengurangi keparahan dari reaksi alergi atau bahkan menghilangkannya sama sekali.
          • Mengingat kompleksitas sistem kekebalan tubuh manusia, maka akan tahun sebelum pemahaman yang lengkap dari koneksi alergi-hormon muncul. Namun, hubungan yang jelas antara kedua ada, sehingga penting untuk mempertimbangkan komplikasi hormon mungkin sangat dikaitkan dengan pengobatan alergi.

          Daftar Pustaka :

          • Roby RRRichardson RHVojdani A. Hormone allergy. Am J Reprod Immunol. 2006 Apr;55(4):307-13.
          • Mishuk VP, Saiapin SR.  Endocrine mechanisms of the pathogenesis of nocturnal asthma. Probl Tuberk Bolezn Legk. 2005;(8):57-60.
          • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani. Hormone Allergy. ,American Journal of Reproductive Immunology in April of 2006.
          • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ.Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7. 
          • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ. Elevated serum melatonin is associated with the nocturnal worsening of asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Sep;112(3):513-7.  
          • Gonzalez Barcala FJ, Pena A, Herrero L, Urtaza A, García Domínguez M, Valdes Cuadrado L. Young man with asthma and infertility. Monaldi Arch Chest Dis. 2009 Dec;71(4):180-1.
          • Frapsauce C, Berthaut I, de Larouziere V, d’Argent EM, Autegarden JE, Elloumi H, Antoine JM, Mandelbaum J. Successful pregnancy by insemination of spermatozoa in a woman with a human seminal plasma allergy: should in vitro fertilization be considered first? Fertil Steril. 2010 Jul;94(2):753.e1-3. Epub 2010 Feb 20.
          • Hanzlikova J, Ulcova-Gallova Z, Malkusova I, Sefrna F, Panzner P. TH1-TH2 response and the atopy risk in patients with reproduction failure. Am J Reprod Immunol. 2009 Mar;61(3):213-20.
          • Müller L, Vogel M, Stadler M, Truffer R, Rohner E, Stadler BM. Sensitization to wasp venom does not induce autoantibodies leading to infertility. Mol Immunol. 2008 Aug;45(14):3775-85. Epub 2008 Jul 15.
          • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ.  Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7.  
          • Bell, John R. “Some women may be allergic to hormones.” OB GYN News 41.9:19, 2006.
          • Fishman, Henry J., M.D. “Female Hormones May Affect Allergies, Asthma.” February 9, 2006.
          • National Women’s Health Resource Center. “Allergies and women’s health.” National Women’s Health Report 24:1, 2002.
          • “Puberty: Physiology.” Geneva Foundation for Medical Education and Research. <http://www.gfmer.ch/Endo/Lectures_10/Puberty_%20Physiology.htm#Adrenal%20Steroids&gt; (Accessed October 31, 2007.)
          • Roby, Russell R., Richard H. Richardson, and Aristo Vojdani. “Hormone Allergy.” American Journal of Reproductive Immunology 55:307, 2006.
          • Roby, Russell, M.D., J.D. “Hormone Imbalance – Hormone Allergy.” <http://www.onlineallergycenter.com/treatments/hormone_imbalance.htm&gt; (Accessed November 4, 2007.)
          • Shiel, William C., Jr., MD FACP FACR. “Cortisone Injection (Corticosteroid Injection) of Soft Tissues & Joints” <http://www.medicinenet.com/cortisone_injection/article.htm&gt; (Accessed November 1, 2007.)
          • Starnbach, Michael N. “The Truth About Your Immune System (Harvard Special Health Report).” Harvard Health Publications, 2004.
          • Tweed, Vera. “Women’s health handbook take charge of your hormones: are your hormones wreaking havoc with your health?” Better Nutrition 68: 44, 2006.
          • University of Texas at Austin. “Evidence Of Estrogen And Progesterone Hormone Allergy Discovered.” ScienceDaily 30 March 2006. 5 November 2007
          • Wilkinson, S.M., P.H. Cartwright, and J.S.C. English. “Hydrocortisone: an important cutaneous allergen.” The Lancet 337:761, March 1991.
          • Wurtzman, Mitchell. “New clues to premenstrual skin flare-ups.” Total Health 17 n.6:16, 1995.
          • Yawn, Barbara P. “Asthma therapy: does your patient need inhaled steroids?.” Consultant 43.9: 1073, 2003.
          •  Russell R. Roby, Dick Richardson, Relief of Asthma Symptoms with Dilutions of Progesterone”
          •  Russell R. Roby,  Dick Richardson. Prevention of Sinusitis Using Intranasal Influenzavirus Vaccine”
          • M.R. Sneller, and R.R. Roby. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. I. A 12-month study in and out of doors.”
          •  R.R. Roby, and M.R. Sneller. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. II. Correlations of skin tests with mold frequency.”
          • M.R. Sneller, R.R. Roby. and L.M. Thurmond, B.S.. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. III. Associations with local crops.”
          •  C. R. Mabray, M. L. Burditt, T. L. Martin, C. R. Jaynes, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures
          • Joseph B. Miller, MD.Relief of Premenstrual Symptoms, Dysmenorrhea, and Contraceptive Tablet Intolerance”
          • NY Times review of Dr. Atkins’ Diet” July 7, 2002.
          • Mabray, MD, M. L. Burditt, MD, T. L. Martin, MD, C. R. Jaynes, MD, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures. Obstetrics & Gynecology Vol. 59, No. 5, May 1982
          • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani,. “Evidence of estrogen and progesterone hormone allergy”  January 17, 2006.
          Advertisements

          Leave a Reply

          Fill in your details below or click an icon to log in:

          WordPress.com Logo

          You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

          Google+ photo

          You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

          Twitter picture

          You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

          Facebook photo

          You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

          w

          Connecting to %s