Efek Samping 14 Imunisasi Pada Anak dan Remaja

Polio

  • Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas, dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.

  • Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau menelan.

BCG

  • Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah yang sama.

  • Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

Hepatitis B

  • Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan pertama kali pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di kisaran usia 3-6 bulan.

  • Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.

DTP

  • Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.

  • Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian. Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia: Dua bulan, Tiga bulan, Empat bulan,Satu setengah tahun dan Lima tahun

  • Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12 tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.

Campak

  • Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, radang mata, dan ruam. Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.

MMR

  • Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak, gondong, dan campak Jerman.

  • Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.

  • Pemberian vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga bulan dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan pemberian vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun. Sebagai patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali..

  • Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.

  • Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.

Hib

  • Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).

  • Pemberian vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, dan 18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.

Pneumokokus

  • Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.

  • Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat anak berusia 12-15 bulan.

  • Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.

Rotavirus

  • Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur 10 minggu dan 6 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin rotavirus yang paling umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya menjadi lebih rewel.

Varisela

  • Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak berusia di atas 13 tahun dengan jarak waktu 4-8 minggu.

  • Efek samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan dan nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang adalah ruam kulit.

HPV

  • Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus human papillomavirus. Vaksin HPV dapat diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping pemberian vaksin HPV yang tergolong umum adalah: Sakit kepala, Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang disuntik, Demam, Nyeri tangan dan kaki, Mual

  • Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.

Hepatitis A

  • Vaksin hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.

  • Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Tifus

  • Vaksin tifus diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, diare, dan sakit kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi usus dan perforasi (robek) usus.

  • Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus yang mungkin saja terjadi adalah: Nyeri, bengkak, dan merah pada bagian yang disuntik, Demam, Sakit kepala, Tidak enak badan, Sakit perut, Diare

Influenza

  • Vaksin influenza diberikan untuk mencegah virus-virus influenza. Vaksinasi pada anak-anak bisa dilakukan sejak mereka berusia enam bulan dengan frekuensi pengulangan satu kali tiap tahun. Efek samping vaksin influenza di antaranya adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah bersin-bersin, sesak napas, sakit pada telinga, dan gatal-gatal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s